Berburu SMP Negeri untuk Nixie

Wish that you could build a time machine
So you could see
The things no one can see
Feels like you’re standing on the edge
Looking at the stars
And wishing you were them

Nggak nyambung sih antara the story behind the song ama perasaan saya.. tapi mamas Louis Tomlinson ini mendadak menjadi teman setia saya selama beberapa hari yang galau dan kelabu.

Pertama kalinya saya menangis untuk anak saya adalah ketika anak sulung saya terkena penyakit dbd 7 tahun silam.

Waktu itu saya tidak bisa berhenti meratapi kegagalan saya menjadi seorang ibu, sampai-sampai membiarkan nyamuk jahat nggigit anak saya, yang menyebabkan anak saya harus dirawat di rumah sakit dan harus cek darah setiap pagi selama seminggu.

Kali kedua ini, polanya juga begitu. Saya sudah tau itu bukan salah saya ataupun anak saya, BAHKAN sebenernya yang saya tangisi ini bukan masalah hidup dan mati.

Tapi air mata ini nggak bisa diajak berkompromi.

Sesudah membeli formulir di salah satu sekolah swasta di Tangerang, saya sampai harus menepi dulu di pinggir jalan selama hampir satu jam hanya untuk menangis.

Seandainya saja kami tinggal di kabupaten, justru anak saya bisa cari sekolah negeri di kotamadya memakai nilai UN.

APA?!
Nangis sejam cuman gara-gara gak dapet sekolah negeri?

Yoi..
Segitu lemahnya saya, ya?!

Tiga hari ini rasanya sedih mikirin anak sulung saya yang tertolak oleh sistem ketika daftar sekolah yang diinginkan karena alasan zonasi TAPI ketika daftar yang sesuai zona pun nggak diterima karena banyak calon siswa yang usianya lebih tua.

Saya jadi baper, apalagi kalau digodain atau dinasehatin sama orang yang nggak berempati sama sekali. Padahal prinsip hidup bahagia bagi saya antara lain adalah jangan nyinyir dan jangan baper. Tapi ternyata ketika mengalami hal seperti ini, susah sekali untuk nggak baper.

Saya termasuk orang tua yang mendukung program zonasi (jadi nggak perlu dijelasin apa manfaat zonasi), tapi anak saya termasuk calon siswa yang nggak kebagian sekolah negeri.

Saya juga termasuk orang yang nggak masalah jika memang harus sekolah ke swasta (jadi nggak perlu dinasehatin jangan sayang sama uang kalau untuk anak), tapi saya punya prinsip sendiri kenapa (tadinya) memilih untuk selalu menyekolahkan anak di sekolah negeri.

Di semua media hanya dibahas apa tujuan dan efek positifnya. Negatifnya dibahas ya hanya selintas doang.
Efek negatif yang dibahas biasanya juga seputar: efek ini kan efek sementara demi masa depan yang lebih baik lagi. Titik. Anak saya adalah martir demi kebaikan masa depan bangsa. *ealah…drama queen..

Mereka yang jadi nara sumber rata-rata bilang: ya ini tantangan bagi semua sekolah untuk menjadi yang terbaik.

Ya ya.. Saya tau..

Saatnya membuktikan kalau sekolah di mana saja bisa jadi yang terbaik, kan?
Sekolah di mana saja yang penting kemauan belajar anaknya, kan?
Iya, kan?

Ah itu klise..

Buktinya anak saya nggak dapat sekolah negeri.
Apa itu adil?

Seandainya disurvei dulu banyaknya calon siswa dibanding jumlah sekolahnya.

Seandainya di setiap kelurahan ada smp.

Seandainya setiap smp sudah ada gedungnya (bukannya nama doang ditempel pake kertas di pinggir jalan, lalu siswanya menumpang di smp lain untuk kegiatan belajarnya).

Kalau memang sudah layak, sekolah di mana aja ya tinggal ikut pembagian zonasi. Nggak ada sekolah favorit, semua bersekolah di sekolah yang ada di lingkungannya. Ngurangin macet. Anak nggak capek sekolah kejauhan.

Tapi, ini tetap nggak adil menurut saya.

Bahkan yang paling diuntungkan adalah anak-anak yang pernah tidak naik kelas. Merekalah yang sekarang duduk manis dengan aman tentram karena umur mereka 1 tahun lebih tua dari teman-teman seangkatannya.

(Sebentar, pause dulu. Sampai di sini, bagi yang nggak bisa ngertiin perasaan saya dan siap-siap mau kasih nasehat, mending melipir jauh-jauh, daripada kena sambit bakiak!)

Saya nggak masalah dengan anak-anak yang tidak naik kelas ini. Semua orang punya masalahnya sendiri. Tidak naik kelas bukan berarti kurang kemampuan akademiknya.

Bagaimanapun juga, mereka adalah yang paling diuntungkan selain anak-anak yang tinggal se-rt atau se-rw dengan sekolah yang dituju. Just saying.

Padahal saya termasuk yang menerima dengan baik sistem zonasi ini, lho. Sungguh!
Saya bahkan mau ikut repot ngurusin anak-anaknya orang lain yang orang tuanya nggak bisa mendaftar secara online, agar mereka nggak merasa dirugikan sistem online dan sistem zonasi ini.

Makanya sakit hatinya kayak ditelikung pacar!

Kemaren saya bantu nenangin orang tua yang histeris karena anaknya histeris karena nggak dapet sekolahan. Nilai bagus. Tapi masuk mana-mana susah. Udah full sama yang zonanya dekat. Sementara mereka tinggal di wilayah kalurahan yang tidak ada SMP-nya.

Belom lagi yang marah ke sekolah karena anaknya nggak diterima padahal udah minta tolong sekolah buat daftarin.
Atau nama anaknya nggak ada di pilihan pertama langsung ke dua. Atau malah namanya adanya baru di pilihan selanjutnya ketika pilihan pertama dan kedua sudah dinyatakan tidak diterima.

Udah saya jelasin kalau sekolah cuman mbantu daftarin, selanjutnya sistem yang menentukan… nggak ngerti juga. Rasanya saya pengen teriak: Buuu, anak saya malah pilihan pertama, kedua, ketiga, bahkan sampai pilihan ke enam nggak ada yang lolos!

😣

Ya Allah..

Di pinggir jalan itu, saya sampai tersedu-sedu dan istighfar. Apa ini teguran dari Allah buat saya karena selama ini udah sombong? Karena yakin dengan nilai segitu pasti mendapatkan smp negeri yang anak saya inginkan?

Saya nggak maksa anak saya buat masuk sekolah favorit. Saya hanya bilang kalau nilainya bagus, sekolah negeri mana aja pasti mau nerima.
Dan ketika nilai UN keluar, “Amaaan,” batin saya. Nggak bisa ke SMP N 1 atau 2 ya ke 4 aja.

Sombong kali kau, mak!
Sekarang nyatanya nilai UN tak diperhitungkan sama sekali.

Trus gimana dengan anak saya sekarang? Sedih?

Sepertinya tidak.
Alhamdulillah, kalau anak saya sih bisa dengan gampang diberi pengertian tentang situasi dan kondisinya, lalu dia bilang, “Ooh okay, not a big deal..” lalu main game lagi. Moga-moga memang hatinya juga nggak papa.

Untungnya..

Coba kalau anak saya juga sudah berharap banyak, kan?! Tambah drama..

Ketika saya berusaha menenangkan orang tua lain, saya juga berusaha menenangkan diri saya sendiri. Ketika satu pintu tertutup (atau 6 pintu) maka pasti ada pintu lain yang membuka untuk anak saya.

Super ya?!

Tidak.

Itu hanya kata-kata penghiburan yang saya tanamkan ke diri saya agar tidak kehilangan akal sehat saya. Yang ternyata tidak cukup ampuh untuk menghalau air mata ini agar tidak tumpah dan melunturkan eyeliner saya.

Semoga penerimaan siswa baru tahun ini bisa menjadi evaluasi bagi pemerintah agar tidak terjadi kejadian seperti ini lagi di tahun mendatang. Semoga tahun depan semua siswa yang ingin masuk sekolah negeri bisa terakomodasi dengan baik.

***

Untuk anakku Nixie dan sahabat-sahabatnya sejak kelas 1 SD (yang juga ditolak di mana-mana): Gina, Putera, Marcha, dan Damar, semoga kalian mendapatkan sekolah yang terbaik untuk kalian..


Hugs & kisses,
πŸ’›
Momom

Oh-oh-oh, oh-oh-oh oh, if it all goes wrong‬ 🎢
Oh-oh-oh, oh-oh-oh oh, darling just hold on‬ 🎢

*btw, nilai UN Gina, Putera, Marcha, dan Damar ini semua di atas 28 lho!
Mereka sering ikut lomba-lomba mewakili SD Gebang Raya I Tangerang. Doain mereka, ya.. Doain Nixie juga..

*TAMBAHAN:

WALIKOTA ARIEF: NILAI UN MENJADI PRIORITAS PPDB

KAMALASANJIVANI: SISTEM ZONASI YANG BIKIN KEKI

Update 09 July 2017:

Sekitar pukul 02.00 iseng-iseng cek hape (saya belum tidur karena habis jadi uber driver dari bandara), dan mendapati bahwa aplikasi PPDB telah diupdate. Daaan… ternyata masa pendaftaran diperpanjang dan sistem skornya dirubah.

Saya langsung buru-buru cek pilihan pertama, GAGAL, lalu pilihan kedua, DITERIMA.. πŸ˜„ YEAY!

Memang hasilnya tidak seperti yang diharapkan karena saya selalu mendorong anak untuk mencari sekolah yang semakin jauh dari rumah ketika sudah smp, lalu lebih jauh lagi ketika sma, dan kuliah. Mental ortunya rantau semua, ya, pelan-pelan dijauhkan dari rumah emaknya.

Dulu saya malah kalo ada yang bilang sekolahin aja di SMPN 12, selalu saya jawab, “Ogah! Kedeketan”.
Taunya, sekarang masuk ke 27 yang ngesot aja nyampe. Hadeeh… ketulah ya.. Jadi orang emang harus jaga mulutnya. Hehehe…

Parahnya lagi, pas dikasih tau ada sekolah baru namanya SMPN 27, ya maleslaaah, masak sekolah di sekolah baru yg belom jadi bangunannya.. πŸ˜‚

Dan di sanalah Nixie dan Momom Popop akhirnya memantapkan pilihan.
*eaaa.. yang pas sistemnya dirubah langsung bisa memilih sekolah

Soal alasan kenapa kami mantap menyekolahkan Nixie di sekolah yang belum jadi gedungnya, biarkan hanya kami dan Allah saja yang tau, ya.. Tidak perlu dibahas di sini karena pasti akan menimbulkan kontra.

Hingga sore tadi tidak ada perubahan lagi. Saya sudah nyicil ayem. Walaupun agak sedih karena nggak masuk ke sekolah impian (iya, saya yang sedih bukan anaknya), tapi ya berbahagia karena kemaren kan sama sekali nggak dapet sekolah negeri.

Tapi malam ini tiba-tiba ada rasa sedih memikirkan anak-anak yang merasa dirugikan ketika sistemnya dirubah.

Hiks..

Mereka yang nilai UN-nya di bawah anak saya yang tadinya sudah tenang selama 3 hari, tiba-tiba tidak mendapat sekolah.
πŸ˜“

Mungkin memang sudah saatnya pembangunan gedung sekolah negri itu digalakkan, ya. Buktinya pendaftar ke sekolah negeri lebih banyak melebihi kuota sekolahnya.

Karena rasanya tidak adil bagi calon siswa yang nilainya tidak cukup tinggi untuk bersaing, tapi harus masuk swasta padahal tidak mampu secara finansial. Sama seperti ketidak adilan yang saya rasakan kemarin, pengen masuk negeri tapi tertolak di mana-mana.

Tapi kan sekarang smp swasta juga gratis kayak smp negeri?!

Iya sih..
Tapi, walaupun 96 smp swasta di Tangerang sudah membebaskan spp tiap bulan, tetap saja ada uang gedung yang dibayarkan. CMIIW

Yah, semoga sistem pembagian sekolah sesuai zona tempat tinggal ini nantinya berhasil seperti di negara-negara maju lainnya yang menerapkan sistem ini.
Kekisruhan dalam penerapan sistem baru ini, semoga jadi pelajaran untuk tahun-tahun mendatang..Aamiin..

Good night 😘 semoga nama Nixie tetap ada..

DAFTAR SMP SWASTA KOTA TANGERANG GRATIS

Granny’s Day Out

Bulan lalu, pada suatu hari yang cerah, tiba-tiba ada gagasan pengen ajak para nenek buat jalan-jalan pas hari ibu. Granny’s Day Out gitu seharian, tapi nggak sendirian. Barengan nenek-nenek yang lain beserta anak gadisnya.

Pasti seru ih pas ngebayangin nenek-nenek yang biasa sibuk itu istirahat bentar dari rutinitas. Kita yang belom jadi nenek aja juga butuh me time kan?!

Trus mulai deh saya ngelamunin nanti mau ngapain aja. Shopping, bioskop, salon…

Sayangnya hari ibu di Indonesia masih luaaamaa bener di bulan Desember.

—-

Sabtu pagi, akhir April, ibuk saya tiba-tiba telpon minta tiket karena sekolahnya UN sejak hari Selasa dan kali ini bisa terbebas dari tugas jaga ujian. Alias libur sampai Kamis.

Saya langsung beli tiket PP dan … BOOM this is it. Mother’s day.

Kebetulan pas Mei itu memang Mother’s Day di banyak negara, trus International Mother’s Day juga jatuh pada tanggal 14 Mei. (Iya sih ini mah kebetulan dan dipas-pasin aja)

Selesai beli tiket, saya bikin pengumuman di salah satu grup wasap saya yang namanya alay.. One Direction πŸ˜‚. Dan ngajakin emak-emak mereka buat meet up the next day.

Taraaaa…
Here we are…

Sepertinya emaknya Lisna malu sama kelakuan anaknya

Karena cuman 2 orang aja yang emaknya memang ada di deket-deket sini, maka kami pergi berenam buat jalan-jalan. Saya + Iboek Lastri jemput Vita + Bu Evi dulu baru jemput Lisna + Bu Rohmah.

Bu Evi emang tinggal sama Vita. Jadi pasti ikutlah karena rumahnya deket sama saya. Beliau nih jagoan loh. Multi talented mom. Jahit pakaian? Jago. Masak? Jago. Pernah punya salon juga. Pernah punya toko juga. Kalo lagi nyetir buat anter cucu-cucunya les… jadi pembalap deh. πŸ˜‚
Cuman, karena mamah (kami semua manggil mamah -pake h) emang yang paling sering ketemu ama kita-kita, berasa kami ini anak-anaknya sendiri. Kalo pergi me time, semua sering ditelponin suruh pulang. Apalagi kalo mau midnight πŸ˜‚ berasa mau kabur dari rumah.

Lalu ada Bu Rohmah. Nenek yang satu ini lebih bertipe rumahan dibanding dua yang lain. Lebih kalem dan keibuan. Rumahnya di Sepatan, jadi pagi-pagi musti dijemput dulu sama menantunya demi ikut jalan-jalan.

Selain jago jahit (dulu sempat berbisnis sprei untuk nyekolahin anak-anaknya), juga berbakat jualan pakaian. Sepertinya memang keturunan karena Lisna berbakat menggiring mangsanya untuk membeli baju tanpa menyadari kalo telah dimanipulasi oleh Lisna. πŸ˜‚

Bu Rohmah ini selama bertahun-tahun namanya dicatut sama Lisna jika ingin makan makanan kesukaannya.
“Pey, bawa oleh-oleh kepiting saus padang aja, kesukaan ibukku!”
Padahal dia yang mau.. πŸ˜‘

Kalau Iboek Lastri? Hhmm…

Ibuk saya guru di SMP 8 Yogyakarta. Hobi: senang-senang nyanyi dan lihat band.
Saya?
Ibu rumah tangga yang hobinya tidur-tiduran pake earphone dengerin lagu, trus bablas ketiduran sepanjang album Divide-nya Ed Sheeran, trus panik pas anaknya pulang sekolah tapi majic com lupa dicetekin.

Ibuk saya dulu bercita-cita jadi pramugari, tapi gagal. Jadi harap maklum aja, sejak lahir, saya sudah dikondisikan bercita-cita jadi pramugari. Makanya, sewaktu kecil, cita-cita saya nggak kreatif dan nggak berubah-ubah. Pramugari melulu. Bandingkan dengan anak saya yang cita-citanya mau jadi pohon..

Kekuatan doa ibu ya..
Saya jadi takut anak saya jadi pohon beneran.

Di perjalanan ini Vita baru sadar bahwa drakor itu bukan judul salah satu drama korea melainkan singkatan dari drama korea itu sendiri..

Seharian itu kami pergi jalan-jalan. Belanja kaca mata, belanja beha, belanja cancut, belanja tas, belanja baju, oleh-oleh, makan, lihat band, dan spa.

Ah.. tapi yang spa sih nenek-nenek doang karena keterbatasan budget HA HA HA..Walaupun tanggal muda, tidak ada budget lebih karena dadakan.
Tadinya mau nonton Kartini juga, sih, sayang waktunya nggak cukup karena kelamaan belanjanya..

Saya nggak hobi belanja. Sebenarnya kalau bisa memilih, saya pengen duduk aja sambil nunggu mereka selesai belanja.. 

Oh iya.. Dan ini! Penting ini!
Ternyata ibuk saya baru kali itu naik elevator yang dindingnya kaca. Ndeso ya? Katanya agak mak syut sambil nyengkerem lengan saya..

Pas di depan pintu elevator ibuk saya bilang: Lha ini kok kaca semua?

Me: Lha iya emang kenapa?

Ibuk: Lha ngeri dong kalo lihat luar?

Me: Lha enggak lah..

Taunya.. pas keluar elevator mau ke mushollah, ibuk saya senderan dulu karena keliyengan. πŸ˜‚

Wahana elevator by Iboek Lastri

Asyik banget ternyata seharian sama nenek-nenek. Kami yang seumuran ini ternyata selain anak-anaknya seumuran (9 anak antara 7-13th), emaknya juga seumuran.
Beda dikit doanglah, emaknya Lisna yang paling tua 60th (tapi Lisna anak bungsu sementara saya anak sulung 😱). Trus emaknya Vita 58th, ibuk saya 57th.

Fyi: Vita 36th, saya bentar lagi 35th, sementara Lisna nih bulan Maret kemaren ultah 35th tapi dia ngotot ngeralat bahwa dia lahir tahun 83 pas gerhana bulan. Bete kan?!

Walaupun tampang saya paling tua, seharusnya sayalah yang paling muda diantara mereka bertiga dan Lisna mencuri kejayaan saya dengan bilang dia lahir tahun 83.

Ini adalah ketika pura-pura menikmati band, padahal sebenarnya ngistirahatin kaki yang copot muterin toko.

Yang ini adalah cuci kaki sebelum spa. Pas itu nenek-nenek ini nggak ngerti kalo pake cuci kaki segala. Pada komplen…spa kok duduk tegak begini siih?! Mana enak? Eeh.. nggak taunya setelah selesai, ibuk saya bilang, “Jangan tanya enak apa enggak, soalnya aku tidur saking enaknya!”

Nggak punya duit buat spa? Ya gini deh sekali-kali ngalah buat emak..

Nyaem… Dari kiri ke kanan: Bu Evi, Bu Rohmah, Lisna, mamas ganteng, Vita, Me, Iboek Lastri

Btw, saya sempet kaget waktu ibuk saya pakai parfum White Musk karena saya pakai Black Musk dengan merk yang sama, dan lebih kaget juga ketika sama-sama pesan soda gembira di restoran.

Semakin menegaskan kalau buah itu bakal jatuh tak jauh dari pohonnya, kan?

EH YA ENGGAK JUGA SIH

Ibuk saya hobi dandan, sementara saya males. Bahkan hanya untuk sekedar mandi saja bisa sejam kalungan anduk doang nggak mandi-mandi.

Ibuk saya hobi belanja tas dan baju, sementara saya lebih suka belanja makanan.

Ibuk saya suka nonton live band Koes Plus-an, sementara saya suka Zayn Malik.Ya iya lah, beda generasi ya? Saya kan masih abg πŸ˜‚.Tapi kalo disuruh liat live concertnya ya pasti suka laah (walaupun mungkin pakai topeng karena malu sama umur).

Ini beda hari sih, cuman sekedar ngasi tau kalo my mom suka banget Koes Plus-an. Ibuk saya pergi sendirian ke Summarecon Mall Serpong hari Rabu malem buat lihat T-Koes, karena saya harus nemenin belajar Nixie yang mau Ujian Nasional minggu depan. Alesan..

Aah.. senengnya..

Moga-moga nanti bisa sering ngedate with my mom again. Kan siapa tau ibuk mau ikut nonton Ed Sheeran walaupun saya nggak pernah ikut ke konser Koes Plus. 😁

Happy Mother’s Day everyone!!

Lis, maapkeun ya fotomu jelek. Soalnya fotomu emang jelek semua sih.. 😜

A Sudden Party

A Sudden Party

Pernah nggak banyak tamu berdatangan dalam keadaan nggak siap? 

Saya pernah, baru aja sore tadi.

Beberapa hari yang lalu Kakak Percy ulang tahun. Nggak dirayain sih, tapi memang saya bilang kalo mau ajak temen-temen deketnya ya ajak aja makan es krim.

Kakak beberapa kali bilang katanya temennya banyak yang mau datang hari Sabtu. Saya iya iya aja. Paling yang dateng ya Pandu – Nabil – Topan – Ando. Lima sekawan. Tar saya bawa beli es krim aja di kedai es krim deket rumah.

Dan sore tadi saya habis mandi, naro pantat di kasur buat leyeh-leyeh, kok tiba-tiba denger suara berisik anak-anak perempuan. Eh.. siapa ya?

Ngintip dr jendela…

😱
Temen-temen Kak Percy banyak banget dan emak-emaknya juga…bawa kado.. WHAT?!?!?!?

Saya langsung loncat, nyamber krudung, ambil dompet dan.. nemuin para emak sambil permisi beli kue dulu HA HA HA HA HA

Percy nggak salah sih. Samar-samar saya ingat kalo dia bilang kayaknya paling sedikit temennya ada 15 orang yang bakal datang. πŸ˜‚ Tapi saya pikir nggak beneran, pikir saya, ah kakak polos sekali, temennya mau dateng 4 orang aja senengnya minta ampun.

Untung kue gampang di dapet buat dimakan rame-rame. Susu dan jajanan pun ada warung sebelah. Trus buat tentengan pulang, untungnya ada mbak Ida dari Warung Nasi Keraton yang bisa ditodong nasi goreng 20 box saat itu juga (pesennya pun pake tulisan BURUAN YA MBAK) πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Alhamdulillah semua senang.. Anak2 juga udah pada seneng ngumpul padahal nggak pake games atau apapun..

Happy birthday Kakak Percy..

Support Group

​Support group buat ibu2 tuh gunanya apa sih? Saling membantu dan menghibur kan ya? 

Apalagi buat ibu2 baru. Karena tanpa support group, panduan mengasuh anak pasti sesuai dengan text book yang maha sempurna itu.
Eh, emang situ termasuk ibu baru, pey?

Ya iya lah.. saya ibu baru bagi teenager. πŸ˜„ Akhirnya, sejak beberapa hari yang lalu saya bisa ikutan berkeluh kesah punya teenager di rumah. (happy birthday, nixie)
Lagian, support group itu dibutuhkan semua ibu sih. Bukan cuman ibu baru. Karena berapapun umurnya, masalah seorang ibu itu akan selalu berevolusi. Dikira orang mah karena anak-anak saya udah gede-gede trus gak ada masalah.. 
Hah.. yang bener aja?!
Misal kayak kejadian saya kemaren.

Kemaren saya curhat kalo saya bete banget karena masuk kamar mandi, semua basah. Airnya berantakan ke mana2. Ya ke dinding, ya ke wastafel, ya ke keset, ya ke cermin… padahal belum 10 menit sebelumnya saya bersihin dan saya tinggal dalam keadaan kering.
Kok bisa? Gara-garanya, anak kedua saya takut setan, trus mandinya nggak nutup tirai bath up.

Kesel kan?!
Trus masalahnya adalah, si anak yang mau diomelin ini ada di sekolah. Nggak bisa ditegur, kan?! Trus biasanya karena sibuk kegiatan ini itu, tar lupa mau negurnya, sampe besoknya keulang lagi.
Karena kata orang nyimpen amarah itu nggak baek, maka daripada jadi penyakit, mending saya nyampah di support grup saya, Grup Emak Budiman (jangan tanya asal namanya). 

Siapa tahu dapat penghiburan dari sesama emak yang anaknya kecil2 semua.
Daaan.. 
Support yang saya dapatkan adalah diketawain. 

(((DIKETAWAIN))) 

Support group macem apa pula ini?! Gada gunanya sama sekali.. 
πŸ˜‚πŸ˜‚ 

Jadi bagi emak budiman, support group itu adalah bahagia ketika emak yang lain bernasib sama atau lebih sengsara.. 
Bener sih, akhirnya trus nggak bete lagi karena yang lain trus ikutan membeberkan aib anak-anaknya. Ha ha ha.. ternyata anak mereka juga seajaib anak saya..
Nggak lama setelah curhat, sudah happy, saya ngerasa bibir saya kering. Trus ke kamar mandi nyari pelembab bibir. 

Pas dibuka.. 
Taraaaaa….
KELAKUAN SIAPA INNIIIIH?!?!?!?!

😣😣😣😣
*trus curhat lagi*

#throwbacktime – Ilang Kunci

​Pagi2 lihat status temen saya yang cerita pengalaman kerja dia yang kadang pulang jam 12 malem, kadang berangkat pagi buta juga..
Dulu pas jaman saya kerja, kalau musim liburan, jadwal kerja bisa ngelewatin tengah malam, bisa pulang tengah malam, dan bisa berangkat tengah malam.
Saya jadi ingat, malem itu saya ada di depan pintu dapur dan hampir nangis karena kunci saya hilang. Jadi saya kalo masuk rumah lewat dapur karena kamar saya ada di atas dapur. 
Oiya, fyi tahun 2001-2004 saya tinggal di rumah kakaknya ibuk saya, Pakdhe Dalil dan Budhe Sumarsini Sin.
Sudah hampir pukul 1 pagi, dan rasanya capek banget. Saya telpon  sepupu2 saya,  Vivi Candra Dewi dan  Rusty Setya, tapi nggak ada yang bangun. Mereka ini bukan anaknya Budhe Sin tapi sama seperti saya, kami ini adalah para ponakan yang menumpang πŸ˜‚.
Berbagai cara saya lakukan. 

Manggil bisik2.. 

Nyongkel kunci pintu pake jepit rambut.. 

Nyongkel jendela pake ice tong.. lalu pake towel tong..

Kasih isyarat senter ke jendela (yaelah kordennya aja ditutup)

Gagal semua! 
Akhirnya saya ambil kerikil biar kayak di film2 itu, lalu saya lemparin. 
Pletak!! Mbak Viviiiii..! (bisik2)

Pletok!! Mbak Ruuuuuus..!! Bukaiiiin pintuuuu…

-diulang2-
Hasilnya… pakdhe saya yang bangun. Pakdhe saya ini air crew juga tapi tentara, jadi dari penampilannya aja udah bikin kΓ©dΓ¨r maling.
Malang sekali nasib saya, kebetulan saat itu saya bukan crew aktif (extra crew), sehingga tidak memakai seragam. Padahal seragam ini penting sebagai bukti nyata saya beneran kerja πŸ˜‚ bukannya abis dugem.
S: (sambil agak gemeter, merasa bersalah udah mbangunin pakdhe) Maaf, Pakdhe, saya lupa nggak bawa kunci.
P: INI JAM BERAPA?! Anak perempuan pulang jam segini? Ora ilok. Dilihat tetangga nggak enak. Bahaya, kan?! Mamamu khawatir tapi anaknya malah pulang tengah malem! (kalo dipikir2, biasanya sih malah bisa seminggu saya nggak pulang2 πŸ˜‚πŸ˜‚)
S: Ini saya pulang kerja (sambil lihatin handbag dan koper)
P: Lha kok nggak pake seragam?
S: Iya, ke Jakartanya saya extra crew, Pakdhe, kelebihan working hours. 
P: Mana sopirnya? (sopir dan mobil jemputan kan seragaman)
S: Udah pergi, Pakdhe, tadi pas saya udah nutup pagar langsung ditinggal.
Walaupun agak ragu2, akhirnya saya dilepasin. πŸ˜‚ syukuuur syukuuur, batin saya..

Sampai di atas, saya acak2 kamar kakak sepupu saya dulu, baru mandi trus tidur. Rasain.. tidur kok pules banget gada yang angkat telpon. 
3 jam kemudian mereka bangun mau kerja, dan bukannya prihatin malah saya diketawain ampe sakit perut.. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚
Pas ngalamin sih deg2an minta ampun. Pas udah lewat rasanya lucu banget.. hahaha.. saya jadi kangen rumah Pasar Minggu 😭 dan isinya. Sekarang udah nyebar semua.. 
#throwbacktime

Cerita Liburan Sekolah

Cerita Liburan Sekolah

Liburan saya Desember kemarin dibuka dengan drama keluarga. Bagaimanapun juga, saya itu drama queen. Setitik debu bisa jadi drama 10 season.

Tapi emang sepertinya dramalah yang senang jadi bayang-bayang saya hahaha.. Biar hidup lebih hidup kalo kata iklan rokok.

Dan kali ini saya mau cerita drama ketika sakit aja kok, bukan cerita tujuan wisata. Sebenernya cerita ini udah diketik pas di rs, tapi saya lupa kalo pernah ketik tulisan ini hahaha..

Cerita sakit mah sebentar, nggak mungkin panjang. Siap-siap pop cornnya, ya…


16 Desember 2016

+ Lho ini mah belum liburan kan, ya?
– Iya sih tapi awalnya dari sini.

Jadi bangun tidur badan saya pegel-pegel. Badan beraat banget, rasanya pengen tiduran aja. Trus agak siangan kok agak meriang dikit.

Liat kalender..ooh ini mah pms kali. Drama queen kan kalo pms emang selain senggol bacok, badan jadi kayak nyonya yang musti dimanja-manja.


17 Desember 2016

Tenggorokan saya mulai serak. Aduh pms kok campur mau batuk ya badan rasanya nggak karu-karuan. Sedih banget.
Merana.
Denger Niall Horan nyanyiin This Town bisa jadi ikut baper.


18 Desember 2016

Pas lagi senam di depan rumah, saya dipanggil kedalam sama anak saya.
Wogh.. Nixie panasnya sampe 40.4Β°c!!

Kek kesamber petir. Senam saya tinggalin. Duh gak enak sama ibu-ibu peserta senam yang pas udah selesai sampe repot ngangkatin speaker ke dalem rumah saya, karena saya gak keluar lagi.

Udah deh seharian ngurusin Nixie aja. Udah minum penurun panas tapi mentok sampe malem turunnya cuman ke 39.3Β°c.

Dia ngeluh badannya ngilu, tenggorokan kering, pusing, mual, pilek, dan ngantuk. Denger keluhannya jadi parno dbd.


19 Desember 2016

Pagi ini Percy ama Tristan libur. Jadi mereka ditinggal di rumah sementara saya bawa Nixie ke Siloam Karawaci.

Singkat cerita, setelah hampir 7 jam, kami pulang dengan segepok obat dan vitamin. Nixie panas karena virus. Ah iya tapi saya lupa namanya apa. Padahal njelasinnya panjang lebar lho.. πŸ˜‚
Saya cuman ingat kalo demamnya bisa hilang timbul minimal seminggu. Bikin susah nyerna kalimat berikutnya soalnya nggak konsen. Saya kan mau pulkam ntar tgl 25..hiks bisa gagal deh..

Adek-adeknya Nixie juga kebagian vitaminnya karena dikhawatirkan sama dsa, mereka bakal ketularan. Ini dsa emang yang langganan anak-anak saya sejak lahir. Jadi udah hafal tabiat kesehatan Nixie-Percy-Tristan…dan saya.

Hari itu sampai di rumah, saya juga berasa gak enak badan. Sama kayak pas sebelum menstruasi. Saya sampai mikir ini saya kemaren pms, apa sakit beneran, apa campuran sih?

Trus sambil nemenin Nixie tidur, saya juga tidur. Yang dua asyik main aja berdua nggak saya tengok-tengok.. duh, maap ya, nak..


20 Desember 2016

Saya mulai batuk berat.
Bingung. Gimana nih, ya? Kalo minum obat bisa-bisa saya jadi Sleeping Beauty. Padahal Percy ama Tristan kan sekolah.

Tapi entah gimana prosesnya, saya lupa. Hari itu saya sukses minum obat batuk, sukses tidur, tapi juga sukses mberangkatin sekolah.
Itu sebuah prestasi gemilang.
Sungguh!

Saya curiga penyebabnya tak lain adalah karena saya sebegitu semangatnya bikin rumah sepi damai, biar bisa istirahat tenang berdua sama Nixie.

Yang ternyata gak bisa tenang juga karena saya baru ingat ada janji sama tukang buat benerin kamar Nixie.

21 Desember 2016

Hari ini hari terima rapor. Badan drama queen saya menolak bangun dari kasur.

Astaga.. Seandainya rapor bisa digojekin, saya mending bayar ongkos gojek aja.

Start dari kelasnya Tristan sambil deg-degan. Perasaan saya rasanya bingung mau ke mana dulu karena anak 3Β  sama semua undangannya, jam 08:00.
Lalu ke kelas Percy. Lalu baru Nixie.

Horee..!!
Selama ini saya selalu ada yang ketinggalan satu anak karena kelamaan di kelas lain. Ini berhasil semua ambil langsung pas dipanggil namanya.

Badan sakit saya tiba-tiba sehat karena liat nilai anak-anak. Emak macam apa ini?!
Iya, saya berprinsip nilai memang bukan utama tapi yah normalnya ibuk-ibuk ya, tetep aja kalo anaknya dapet nilai bagus ya senengnya selangit.. hahaha…

Jam 10:30 badan saya mulai berasa lagi gak enaknya.
Ambil thermometer..lho 39.3Β°c. Beneran sakit ya ini?

Saya fotoin hasil rapor dulu, kirim ke Popop nun jauh di sana. Trus izin ke anak-anak kalo Momomnya sakit-butuh tidur-kalo ada yang ganggu momom, langsung semua ngerjain pr kumon aja. (Ancaman disuruh belajar emang efektif bikin anak diem selagi emak butuh tidur).

Sore harinya, sekitar jam 16:00 Tristan cuci tangan dan kaki trus ganti baju, naik ke kasur saya.

‘Mom, Dedek pusing.’

Kalimat singkat yang memporak porandakan dunia.
Sempoyongan, saya ambil thermometer untuk ngukur suhu Tristan… 40,3Β°c!

Here we go again..

Sambil ngawang, saya ngurusin Nixie dan Tristan. Sementara Percy dari main sampai tidur jadinya sendirian aja.

Sungguh, sedang sakit disuruh ngerawat anak sakit tuh rasanya seperti pengen punya embak 5 biji sekaligus. SATU ANAK SATU EMBAK, EMAKNYA JUGA SATU. Satu lagi buat ngurusin makanan.
Cemen banget ya. Baru begini aja udah ngeluh.
Heh! Jadi perempuan jangan cengeng ya, Pey! Orang lain banyak banget yang hidupnya lebih berat..


22 Desember 2016

Hari ini saya sangat kolaps. Makanan nggak kepegang sama sekali, jadinya pasrah minta ke Mbak Ida dari Warung Nasi Keraton. Sampe nggak ngurus pembayarannya segala pokoknya pesen pesen pesen aja.

Bau rumah udah 100% bau bawang merah. Andalan saya kalo banyak virus di rumah emang potong-potong atau parut-parut bawang merah kayak nenek-nenek.

Mulut pahit, badan ngilu, demam tinggi, dsb tepar bertiga. Saya tinggal nunggu Percy juga panas. Saya udah yakin banget bakal kejadian, sampai rasanya pengen nangis.
Semua vitamin dan obat udah saya suapin ke anak-anak, saya sendiri juga minum vitamin dan parasetamol. Tapi sepertinya nggak ngaruh.

Botol-botol kosong praxion forte ampe bertebaran. Dan saya masih bertahan belom bawa semuanya ke rs karena saya masih bisa berdiri. Toh udah dibekalin obat sama dsa anak-anak saya.

Hingga..

Tengah malam dipecahkan oleh bunyi thermometer melengking menandakan kalau kak Percy has joined the club.

Saat itu adalah saat terchaos dalam hidup saya.

Suhu kami berempat bisa buat ndindihin telur sebaskom. Percy nyeri. Nixie eneg. Dan Tristan bahkan jalan sendiri ke kamar mandi buat muntah.

Saya cuman ngikutin sambil sempoyongan. Lalu ikut muntah. Dan nangis.

Ketika semua anak sudah anteng di kasurnya, saya terjebak di lantai kamar mandi buat nangis dan muntah lalu nangis lagi, lalu ngerangkak ke dalam selimut, lalu saya wasap temen saya buat diantar ke Siloam Karawaci.

Happy mother’s day, my self!


23 Desember 2016

Entah bagaimana saya berhasil masuk ke mobil sahabat saya. Kepala saya sepertinya nggak nempel ke badan karena saya bahkan nggak bisa ngerasain mana yang sakit atau apa yang saya rasakan kecuali mual.

Sesampai di ER, kami berjejer. 3 dokter mengerubutin saya karena yang tau riwayat panas anak-anak saya, ya cuman saya. Pelan-pelan saya jelasin karena saya sendiri mau muntah tiap buka mulut.

Dan ditengah ke-chaos-an itu, kami (saya dan para dokter serta perawat ER yang di sekeliling tempat tidur saya), sempat tertawa terbahak-bahak bersama karena sungguh.. kami kayak orang bingung.

Saya sendiri merasakan antara panik tapi sekaligus lega karena sudah merasa berada di tangan yang tepat, sementara dokternya pengen buru-buru bertindak tapi juga harus mencatat keterangan saya.
Dan…

Pertama kalinya dalam sejarah hidup anak-anak saya, mereka diambil darah, diinfus, bahkan berkali-kali karena gagal – TANPA SAYA.

Tanpa saya.

Saya pengen nangis karena merasa membuat anak saya menanggung beban sendiri (walaupun ada sahabat saya Vita dan Lisna yang nemenin anak-anak saya).
Tapi saya menghibur diri. Ini pelajaran juga buat anak-anak saya.

‘Oke, nak, inilah hidup! Umur kamu udah 7 tahun, saatnya kamu tau kalo Momom nggak bisa selamanya nemenin kamu!’

-dan 8 tahun, dan 10 tahun –

Lalu saya merem. Tenang. Sudaah..tenaang.. inhaaale..exhaaale..
Mereka sudah berada di tangan yang tepat. Berkali-kali bilang ke diri sendiri.

Kamar perawatan khusus anak, penuh.Β Lantai di bawahnya, penuh.Β Lantai di bawahnya lagi hanya tersedia 2 bed yang itu juga harus nunggu pasien pulang dulu.

Akhirnya, setelah yakin kami berempat bener bertalian darah, masing-masing kamar diisi 2 bed. Dan kami bisa tidur dengan tenang malam itu.

Oiya.. malem hari selama 2 hari pertama, bergantian Lisna ama Bu Nining yang jagain anak saya di kamar sebelah. Siang harinya sempet 2x Teteh Nurul yang jagain, jauh-jauh dari Majalengka hehehe..
Kalo nggak ada mereka, saya pasti juga bakal sedih merana mikirin anak-anak.

Kalo malem hari Bu Nining sibuk mendongeng buat Nixie ama Percy di kamar sebelah, besoknya Teteh Nurul mijitin saya.. hahaha..

Kalo Lisna sih, dia sibuk sejak antar saya sampe pulang ke rumah saya buat ambil skin care yang terlupakan, balik ke rs lagi jagain anak-anak saya. Kenapa? Kok dia baik banget?

Jawabannya tak lain dan tak bukan adalah karena DIA NGGAK ENAK MAU NINGGALIN SAYA BUAT LIBURAN KE JOGJA. Rencananya kan bareng tanggal 25 nanti.. πŸ˜‚

Fyi: saya tinggal jauh dari ortu, mertua, dan sodara, termasuk sodara ipar. Hanya temanlah yang bisa saya andalkan sebagai penolong saya. 😘

25 Desember 2016

Harusnya pagi hari ini saya dan anak-anak pulkam ke Jogja naik kereta. Tapi malah liburan di rumah sakit.

Pas akhirnya saya mampu jalan kaki, saya ke sebelah buat nengok. Hiks.. begitu lihat muka saya, Percy langsung terisak-isak nangis minta dipeluk. Katanya kangen.

Saya jadi ikut sedih dan kesian. Harusnya sakit kan disayang emaknya…ini malah semua kayak anak ayam kehilangan induknya.

Yang lucu adalah ketika suami saya telpon.

Popop: Udah di mana?

Saya: Lho emang di mana?

P: Bidung jadi hari ini kan ke Jogja?

S: (oh iya mati aku..aku lupa) Aaah iyaa.. bener!

P: Ati-ati ya di jalan..

S: Iya.. (berbisik lirih sambil nyilangin jari)

Suami saya emang nggak tau prahara istri dan anak-anaknya di rumah karena sedang tugas ke luar negri. Tapi nanti kalo udah mendarat di Indonesia pasti dikasih tau kok..tenang aja..

Saya emang sengaja nggak ngasih tau karena nggak mungkin bisa dapat crew pengganti untuk jarak sejauh itu.

Malem hari itu anak-anak di sebelah nggak ada yang jagain. Toh Popop tengah malem juga udah sampai Jakarta. Sebentar ini sendirian gak papalah..
Kalo siang emang mereka udah saya percayakan sama suster aja.

Tapi namanya emak.. rasanya galau. Belum tengah malem udah 2x saya jalan ke kamar sebelah.

Dan saya lain kali nggak akan lagi deh bikin jokes soal suster ngesot atau hantu pasien, karena pas saya jalan ke kamar anak saya, pelan-pelan, bawa infusan…

Yang jaga pasien di kamar depan sempet mau pingsan lihat saya lewat. Pucet sambil bilang, ‘Ya Tuhan!’ tapi trus ketawa.

‘Emang ada kamar lagi ya, di pojokan? Saya pikir itu tangga darurat doang!’.

DΓ©m.. kalo dibilang saya ini art udah sering. Kalo disangka hantu ya baru sekarang..

27 Desember 2016

Alhamdulillah anak-anak udah boleh pulang. Nyicil ayem. Bapaknya juga libur bisa jagain.

Cuman saya masih terhalang trombosit yang turun terus.Β  Saya nih virusnya nyerang saluran pernafasan, tapi hubungannya sama trombosit masih misteri. Emang bisa terjadi tapi saya nggak paham hubungannya gimana. Saya nurut ajalah sama pak dokter.

Tapi yang penting anak-anak udah sehat, saya mah mau tidur-tiduran aja dulu. Badan emang butuh istirahat banget.

Pas mau pulang, Percy ama Tristan nangisin saya. Katanya kasihan liat emaknya sendirian di rs. Tapi kalo nggak di rs takut nggak semvuh-sembuh. Jadi setengah geli setengah kesian. Hahaha…
Selama 2 hari berikutnya saya baru benar-benar bisa tertidur pulas. Saya hanya bangun kalau saatnya mandi, makan, sama mau ke toilet.

Kata dokter, obatnya emang bikin ngantuk berat. Harusnya dari awal udah tidur melulu, tapi mungkin karena saya stress mikirin anak-anak jadinya malah kurang tidur.

Saya sempetin pake masker biar muka saya cling πŸ˜‚ kan kalo udah seger pasti boleh pulang. Capek juga tiap hari diambil darahnya.


29 Desember 2016

Alhamdulillah, setelah 2 hari tidur terus, siang ini udah dibolehin pulang. Jam 2 saya urus administrasi dengan dibantu suster buat dorongin kursi roda saya. Saya emang masih lemah rasanya, tapi karena trombosit udah mulai naik sedikit, saya disuruh pulang aja.

Walaupun masih gemeter kalo buat jalan, saya memilih untuk setuju pulang. Saya udah bosen makanan rumah sakit yang walaupun saya habiskan, rasanya kayak nelen keset.

Saya agak bingung dengan mata saya, tapi mungkin itu efek saya tidur melulu. Jadi kalau melihat jauh seperti orang plus. Lihat iklan yang ada neon putih di dalemnya itu, tulisannya pecah.

Saya jadi takut mata saya riba-tiba plus secara saya suka ledekin Popop Supopop yang matanya plus pas lihat tulisan yang silau gitu..

Udahlah gak usah dipikirin..

Jam 16an saya sampai rumah. Turun dari taksi, ada suami di balkon berdua sama ipar yang nengokin anak-anak.

Iya.. suami saya emang jahat. Istrinya lemes malah disuruh pulang sendiri bukannya dijemput.

πŸ˜„πŸ˜„

Hahaha.. gaklah. Becanda kok.

Saya yang nggak mau. Kalo suami saya yang urus administrasi dan jemput saya, selain lama, nanti anak-anak saya bertiga di rumah gak ada yang jagain. Bukannya nggak pernah di rumah bertigaan aja, tapi ini kan lagi sakit.

Saya ngobrol bentar trus tidur. Trus makan malam. Trus tidur lagi sampai pagi.


30 Desember 2016

Amazing, hari ini saya kayak orang mati. Tidur terus. Rasanya kayak jetlag. Ngimpinya kayak nyata. Pas bangun kayak ngimpi trus bingung. πŸ˜‚


31 Desember 2016

Setengah nyeret badan, saya pergi juga ke Jogja. Kandas keinginan anak-anak buat naik kereta, karena akhirnya kami naik pesawat juga biar cepet.

Suami saya sebenernya agak nggak setuju saya memaksakan diri pulkam. Tapi karena besoknya dia harus kerja ke luar kota selama beberapa hari, maka dia pikir kalo di Jogja malah ada yang ngurusin istri dan anak-anaknya.

Dari pintu gate ruang tunggu sampai ke gate 17 rasanya jauuuuuuuh banget. Badan pengen buat rebahan aja rasanya. Untung di terminal 3 ini pengantar bisa masuk ke checkin counter. Jadi sebelum masuk ke ruang tunggu, suami saya yang urusin checkin, sementara saya dan anak-anak pergi makan.

3 Β Januari 2017

Kali ini bangun tidur, badan rasanya sudah lebih segar. Saatnya pulang ke Tangerang lagi. Liburan apa ini, pulkam kok sekejab doang πŸ˜‚.

Cerita di Jogja gak usah di tulis ya. Karena cuman anak-anak yang pergi jalan sama eyangnya. Selama di Jogja saya tidur melulu. Tidur makan tidur makan.

Akhirnya kami berdelapan (saya + Lisna dan anak-anak) bisa pulang bareng juga. Saya sempat sebal dengan mamas checkin. Karena kami nggak booking seat, saya nggak mau self checkin. Takutnya duduknya pisah sendiri-sendiri.Β Kalau ke konter checkin kan siapa tahu bisa berdua-berdua atau malah jejer semua deketan.

Tapi pas checkin, kami cuman diberi dua boarding pass.

+Lho kok cuman dua, Mas?

-Iya, Bu, yang ada ktp cuman 2. Sisanya batal. Harus ada ktp.

+Kan anak-anak, Mas?!

Trus mamas itu baru deh ngecek nasib yang 6 anak itu bagaimana..πŸ˜‘

Ini Tristan dan Nadila

Dan ketika mendarat di Soekarno Hatta, saya pengen banget makan nasi soto kudus. Pake cabe banyak. Pasti nikmat.
Soto kudus inilah makanan yang di lidah berasa enak beneran sejak saya sakit. Berarti saya sudah hampir sembuh total beneran.



18 Januari 2017

Alhamdulillah sekarang sudah sehat. Anak-anak udah normal masuk sekolah.

Saya baru seminggu terakhir ini sembuh total. Tapi syukurlah anak-anak lebih cepat pulihnya.

Alhamdulillah kemarin diberi sakit, biar lebih bersyukur lagi..

Terima kasih doanya ya, temen2..

Ultah

Ultah

​Saya nggak suka masak. 

Mending nguras kolam ikan + mbersihin pompa2nya daripada motongin wortel. Atau mending ngecatin pot2 dan bikin prakarya daripada harus ngebumbuin ayam. Kalo nggak inget anak2 di rumah musti makan, ya mending gak usah masak (mending nebeng makan di rumah tetangga hahahaa…).

Kemaren saya puasa nyaur utang ramadan pas saya hamil dulu. Jangan kaget ya.. padahal anak bungsu udah 7tahun, saya baru nyaur utang. Dulu saya masih kekeuh kalo fidyah aja sudah cukup soalnya. Tapi ternyata kalo saya masih mampu, ya saya harus nyaur puasa.

Trus kemaren itu saya ulang tahun. Nggak ada yg special sih. Suami dan anak2 aja lupa lho! 😂 walaupun emang sih, saya paling suka kalo suami lupa. Jadi bisa modus minta kado transferan.

Nah karena nggak ada yang spesial, ya di rumah ya nggak ada yang spesial. Gak ada kue2 atau hawa ulang tahun gitu. Saya juga nggak mau traktir2 karena bulan ini saya pengeluarannya udah hampir over budget.

Tapi..tapi..

Ternyata temen2 tetep pada datang. Ada yang barengan ada yang sendiri2. Dari pagi buta niat ngeganggu, sampe sore hari karena ngepasin maghrib. Untung ada yg bawain kue jadi mereka makan kue pemberian orang hahaha… *ipey kau sungguh nggak modal!

Dan… terakhirnya malah ada yang bookingin tempat buat rame2 buka bersama..😂 padahal saya doang yang puasa. Ya udah, yang tadi pada datang lebih pagi sekalian diajakin buat makan malem. Termasuk si kecil Arief – yang foto berdua ama saya, yang hari itu juga ultah, yang pas saya kirim foto itu ke grup keluarga dibilang mirip Tristan Yustim.

Semoga selalu sehat dan bahagia ya, Arief dan saya dan semua orang di sekeliling saya. 😄 
Terima kasih atas perhatiannya..

Mirip gak?