Dikira Pocong

Jam 11.30pm mau berangkat jemput Kakang Prabu yang mendadak terbang ke Jogja.

Biasanya mah ayo aja, jam berapa juga kalo mau njemput ya tinggal berangkat.

Tapi kali ini lain..

Pas udah siap berangkat, ambil kunci, ke halaman rumah… eh lho… kok ngeri ya? Gelap bener.
Halaman rumah orang tua saya kan rimbun pepohonan. Udah gitu letaknya ada di gang kecil di belakang rumah orang lain (jadi rumahnya nggak berhadapan).

Untuk beberapa waktu, ada perang batin antara harga diri dan rasa takut. Masak ya kalah sama rasa takut sih? Di jalan raya pastinya masih rame, kan? Mau dikemanakan harga diri seorang wanita yang tidak takut hantu ini? #eaa #pencitraan

Demi status wanita berani itulah saya ngelangkah mau buka pagar, bismilah. Jangan kalah sama takut. Semangat, Pey! Kamu pasti bisa!

Tapi ya sampai tengah jalan, di bawah pohon kelengkeng, saya puter balik lagi ha ha ha .. Gara-gara lihat kebon sebelah kok gelapnya sumpah minta ampun. Padahal ya saya gak lihat ada apa-apa. Gelap doang.

Akhirnya, saya mbangunin Nixie. Lupakan itu harga diri daripada gak berangkat-berangkat. Lagian kan yang penting ada orang rumah yang masih bangun. Nggak perlu ditemenin sampai luar juga gapapa. Jadi masih ada setitik harga diri yang tersisa.

Me: Bang, Abang.. bangun dong..

Duh ampe 3 kali goyang-goyangin badan Nixie, kok gak bangun ya? Saya mau nyalain lampunya takut malah silau, jadi saya ngandelin layar hape aja biar kelihatan Nixienya ada di mana.

M: Bang.. temenin sebentar dong di ruang tamu..

Abang: (noleh ke saya) Astaghfirullah.. Ya Allah! (sambil reflek kaget gitu)

M: Ini Momom, Bang!

A: Momom apa-apaan sih? Ya Allah.. Bikin kaget aja!

M: Emang serem banget? Kagetnya gitu amat?

A: Iya, muka Momom kelihatan serem. Mana dibungkus putih.

Hadeeeh.. gitu deh, emaknya kerudungan dikira pocong.

Singkat cerita, Nixie duduk di ruang tamu deket jendela sampai saya nutup pager lagi dan masuk mobil. Dan perjalanan saya alhamdulillah lancar. Dan sekarang Kakang Prabu udah tidur di sebelah Nixie, sementara saya ketiban kaki Percy dan Tristan.

The end.

Moral yang bisa dipetik: Jangan memakai kerudung putih lalu gelap-gelapan disinari cahaya remang-remang layar hape ketika membangunkan orang tidur.

Advertisements

Customer Service

Pengalaman nelpon customer service yang paling oke sampai saat ini hanya customer servicenya Google.

Indihome, Indovision, First Media, Astro, Lazada, apalagi PAM dan Telkomsel… duh… lewat semua dah.

Sementara yang lain hanya berpegangan pada apa yang kelihatan di layar (“Pokoknya di komputer kami catatannya seperti ini!”), customer service Google lebih berempati pada penelponnya.

Cara berbicaranya seakan-akan ikut merasakan apa yang kita rasain (dia bilang: “Aduh, mohon maaf, ya, Mbak. Pasti sangat mengganggu, ya, ada masalah ini.”), dan sedikit menenangkan (dengan berkata: “Jangan khawatir, pasti akan kami bantu.”).

Tapi ini penilaian pribadi sih. Subjektif.
Belum tentu sama juga kejadian dan pengalaman masing-masing orang. Kalau kata tetangga sih tergantung amal perbuatan hehehe..

Bulan ini paling parah. Maret kelabu. Belum tengah bulan udah ada 3 kejadian sekaligus:

1. Telkomsel ada tagihan siluman (pembelian gems di online games – padahal nggak beli dan nggak ada juga di history pembelian saya).

Saya langsung telpon ke Telkomsel, tapi harus nunggu tagihan dicetak secara resmi, jadi saya telpon Google dulu dan dikasih tau caranya agar bisa mengetahui siapa yang memakai nomor saya, tapi harus kerja sama dengan Telkomselnya (minta nomor id pembelian untuk mencocokkan alamat email pembeli dengan telpon saya).

Karena Telkomsel nggak mau ngasih tindakan sebelum ada tagihan keluar, ya sudah, saya sabar dulu.

Pas tagihan sudah keluar, saya telpon lagi. Tapi berkali-kali nelpon Telkomsel (iya berkali-kali karena mereka nggak ngerti id apa yang dimaksud Google), jawabannya berkutat di jawaban: tidak ada tagihan jika Ibu tidak beli. Bisa jadi teman yang pakai hp Ibu, atau anak Ibu, atau sodara Ibu..

Iya, tau.. Justru itu kan ini mau dicari tau.

Google hanya minta id itu untuk cek dan proses refund, dan kirain Telkomsel bakal dengan gampangnya mengerti, tapi terakhir sebelum saya meledak, malah dijawab dengan yakinnya: INI BUKAN TAGIHAN GOOGLE. INI TAGIHAN ONLINE GAMES!

Padahal Googlenya udah saya telp, udah cek, dan menyatakan memang nomor hp saya ada yang pakai, tapi bukan dengan alamat email saya yang seperti biasanya. Dan untuk mengetahui alamat email pembeli, mereka butuh id something -saya lupa namanya apa- dari Telkomsel.

Case closed sih akhirnya.. dengan penuh perjuangan sampai titik darah penghabisan.

Eaa..lebay..
😂

2. First Media yang berhari-hari mati (mati lama.. nyala bentar trus mati lagi dan lama pulak). Udah sering banget kayak gini.

Biasanya customer servicenya berjanji akan memberi perhitungan lain pada tagihan, tapi nggak. Bohong. Tetep aja segitu juga saya bayarnya.

Mana First Media ini sering nawar-nawarin promo ini itu yang terkesan indah (telpnya ke kakang prabu pula yang nggak sadar dengan jebakan betmen), yang malah bikin tagihan naik tajam bulan depan karena promonya habis. *sigh*

Rasanya pengen ganti tapi apa ya?

Jangan usul Indihome sih yang jelas. Mimpi buruk buat saya. Customer servicenya lebih mbulet kalau njawab. 😂

3. Pesanan Lazada ditolak (dibatalkan) dan uang mau direfund, lalu besoknya nggak jadi dibatalkan dan batal refund SETELAH saya terlanjur membeli barang yang sama, harga sama, di Tokopedia.

Ceritanya:

Kemarin pagi customer service Lazada telpon untuk memberitahu bahwa pembelian saya terbentur masalah verifikasi, jadi pesanan dibatalkan, dan uang yang terlanjur bayar mau direfund. Saya diminta mengisi form yang akan dikirim lewat email.

Tapi karena email nggak datang-datang, saya nanya ke Bantuan Lazada di Facebook messenger.

Lalu ada email datang – sebagai follow up dari chat saya.

Isinya mohon maaf karena pesanan dibatalkan oleh mereka dan minta saya mengisi form. Karena saya tidak memakai rekening yang sama dengan sewaktu pembelian, diminta mengirim foto bagian depan buku tabungan dan ktp. DONE.

Karena memang butuh, saya lalu pergi ke Tokopedia untuk membeli barang yang sama.

Tiba-tiba hari ini saya ditelpon lagi, dikabari bahwa pembelian nggak jadi dicancel karena transferan sudah bisa diverifikasi dan sudah disampaikan ke penjual.

Waduh, Mbak..!!
Udah beli di tempet lain nih..

Tapi.. customer servicenya kekeuh bilang nggak bisa dibatalkan pemesanannya karena pembelian sudah disampaikan ke penjual.

Bahkan mbak cs ini ngotot kalau sewaktu chat saya nggak menyebut bahwa ada customer service yang mau refund uang saya sama sekali, dan dia bilang (sudah dicek di komputer dia), nggak ada customer service yang telpon saya at the first place.

Saya padahal udah sopan jawabnya, namanya salah komunikasi. Ya tinggal diperbaiki saja.

Tapi mbak cs ngotot kalau saya nggak pernah ditelpon sebelumnya, dan nantangin saya: kirim aja bukti bahwa ada customer service yang menelpon ibu, dan chat yang berkata bahwa ibu ditelpon customer service Lazada sebelumnya.

Lha, nggak tau teknologi screencapture ya? Ya DONE lah.

Dan sampai sekarang belom ada kelanjutannya. Baru dapet email suruh menunggu tindak lanjut berikutnya.

Dan internet masih mati.

Dan mau berenang tiba-tiba ada petir bersahut-sahutan.

Sepertinya saya perlu makan Indomie kuah dengan taburan BonCabe level 30, karena mereka berdua belum pernah mengecewakan saya.. 😂

Welcome to Los Angeles, Baby!!

Liburan sekolah sudah mulai. Yeaaay…

Tadi pagi sekitar jam 3an kami mendarat dengan selamat di Los Angeles. Kami berlima kedinginan, sudah pakai kaos lengan panjang + hoodie + beanie dan jaket, tapi masih membeku masuk ke tulang. Sambil nggendong backpack, kami berjalan keruntelan biar hangat.

Karena jarak hotel dengan bandara cuma dekat, kami memang niat berjalan kaki aja. Apalagi jam segitu kirain sepi, ternyata rame. Bahkan taman-taman yang kami lewati juga masih rame.

Ada theme park tulip berwarna warni yang rame sama anak-anak yang pengen foto sama kangguru. SUBUH-SUBUH.

Ya, ada tulip dan kangguru di Los Angeles.

Nggak cuma itu, wahana seperti dufan itu banyak banget di sepanjang jalan, sampai-sampai ada roller coaster yang bagian terendahnya berada di atas simpang bangjo jalan raya.

Sambil berdecak kagum, saya nyusun wahana apa saja yang mau saya naiki. Kayak turis deh pokoknya. Nunjuk sana nunjuk sini kegirangan banget.

Tepat di depan hotel, ada penjual permen semacam gulali. Tapi aneh rasanya, jadi saya tanya ini bikinnya pakai apa dan gimana.

Mamas penjualnya bilang: It’s quite simple.. bla bla bla..

Tidak. Bla bla bla itu bukan karena saya menyingkat penjelasan mamasnya. Tapi karena saya nggak mudeng dia ngomong apa.. ha ha ha..

Akhirnya kami sampai juga di kamar. Mandi. Trus mau tidur sebentar dulu.

Eh tapi pemandangan dari kamar ternyata bagus banget. Langit biru cerah, dan dari jendela saya pas banget ada hamparan tulip warna warni.

Saya buru-buru ambil hape buat foto. Tapi setelah beberapa kali jepret kok nggak oke (kaca jendela agak buram, mau ke balkon rasanya dingin), saya ke kamar sebelah. Anak-anak saya lagi pada gegoleran di kasur.

Pas lewatin meja rias mau ke jendela. Jantung saya hampir berhenti.

ADA ULAR.

Warnanya hijau, kira-kira sepanjang 2 meter, tepat di atas tumpukan entah apa di meja rias.

Saya teriak panggil popop buat minta orang hotel datang, sementara tangan saya (ya ampun) tangan kanan saya ngegulung koran dari hotel dan tangan kiri saya ngidupin video mode di hape. 😂

Si ular hijau itu merayap turun, trus ke arah saya. Saya naik ke tempat tidur, anak-anak saya ternyata tidur pules dan tetap tidak bergeming sedikitpun padahal sepertinya saya udah heboh bergerak-gerak.

Pas si ular mau naik ke kasur, saya angkat badannya pakai gulungan koran trus saya lempar lebih jauh. Nggak ngerti saya harusnya kalau ketemu ular musti gimana.

Pada akhirnya si ular keluar kamar dan disambut bala bantuan dari hotel. Popop tutup pintu kamar dan kami akhirnya bisa bernafas lega.

Kamera hape saya matikan, successfully saved, trus saya baca ada peringatan bahwa memori hape saya hampir habis, hanya sisa 3 jam video saja.

Aduh! Tepok jidat.

Saya lupa ngosongin hape sebelum bertolak ke Los Angeles. Untung saya bawa flash disc, dan orang hotel ngijinin saya buat pakai komputer mereka.

Hari pertama yang penuh warna.

Saya rasa ular tadi hanya mau ngucapin selamat datang di Los Angeles. 😂

Nggak lama rasanya saya kebelet pipis dan terbangun.

Waaah.. jarang-jarang saya ngimpi yang detailnya sampai runut seperti itu.

Udah lama saya nggak ngimpi yang bukan sekedar mimpi nggak jelas. Mungkin hasrat terpendam pengen jalan-jalan ke South Africa sebulan terakhir ini.

Pengennya ke South Africa kok ngimpinya ke Los Angeles. Mungkin karena timeline saya penuh sama berita kebakaran di California beberapa waktu yang lalu.

Apalagi ada ular segala.

Sejak saya kecil, kalau mimpi ular biasanya kalau ada masalah berat yang saya pikirkan. Dan biasanya juga, saya langsung sadar kalau itu adalah mimpi ketika saya lihat ada ular.

Kata ibuk saya dulu pas saya smp, kalo ngimpi ular itu tandanya ada yang naksir hehehe.. sampai-sampai pas mau nikah saya ngimpi ada ular kobra besar banget mayungin atap rumah saya saking besarnya, kata ibuk saya, wah ati-ati nanti kamu dibawa kabur orang nih!

Ha ha ha

Becanda lho ya! Mimpi kan bunga tidur.

Buat yang penasaran sama cerita hari kedua saya di Los Angeles, stay tune besok pagi ya, siapa tau mimpinya berlanjut setiap malam selama 10 hari. Kan kalau cuti biasanya 2 minggu. 😄

Bye..

S O C C E R M O M

S O C C E R M O M

SoccerMom

Ahahaha.. nggak banget ya judulnya. Terlalu memaksakan.
Mentang-mentang bawa 11 anak di mobil trus menyatakan diri sebagai soccer mom. Mereka bahkan nggak main bola sama sekali.

Hari Minggu kemarin, 11 anak yang ada di dalam mobil ini + 1 anak yang ketemuan di sana, asyik nonton NinjaGo Movie. Sayangnya saya malah nggak ikut menikmati filmya.

Lho kenapa?
😭

Ceritanya tapi nanti ya, saya mau cerita kegiatan saya hari Sabtu dulu.
Penting ya, orang tau kegiatan saya? Ya pentinglah.. Supaya orang tau kalo saya juga punya kegiatan, nggak makan-tidur-makan-tidur doang. Kegiatan saya kan makan-tidur-ke bioskop-makan-tidur-ke bioskop. 😜

Sabtu malem saya dan teman-teman saya pergi lihat film ke bioskop. Sebelum berangkat sempet bingung mau lihat IT apa Pengabdi Setan. Soalnya kalau IT kurang serem kata Umi. Umi Imas ini adalah salah seorang peserta yang pemberani dan katanya selalu menghadapi godaan setan dengan doa hendak makan. Panggilannya aja UMI. Pasti solehah sekali, kan?! Nggak mungkin takut setan.

Kalo saya, terus terang emang nggak suka lihat film horor yang hantunya dari Asia. Hantu Asia itu rasanya beneran ada soalnya. Nggak perlu pakai suara efek juga udah nakutin.
Nanti pas malem-malem musti anter/jemput Popop kerja, bisa-bisa saya kurus karena nahan takut. Saya ini emang penakut banget!

Di depan antrian beli tiket, kami masih struggling mau nonton yang mana, dan akhirnya kami berenam sepakat buat ngelemparin koin 500 perak. Kalau lambang Burung Garuda berarti Pengabdi Setan, kalau tulisan angka 500 berarti lihat IT.

Wew.. anak-anak muda yang di antrian pasti ngebatin: ini emak-emak parah banget ya, mau nentuin film aja pake lempar koin. Bukannya bagi dua aja siapa mau nonton apa. 😂

Dan alhamdulillah…angka 500. IT.
Kalau hantu luar negri saya nggak terlalu ngeri. Ha ha ha.. jauh soalnya. Musti naik pesawat dulu kalau mau ndatengin saya.

Filmnya sih nggak nakutin tapi NGAGETIN. Suaranya itu lho.. jantung saya terlalu lemah rasanya.

Berkali-kali Lilis nanya masih berapa menit lagi saking kaget melulu, pengen skip langsung ke happy endingnya aja 😂.

Duh itu kenapa Lilis jadi seperti baru numbuhin kumis dan jenggot ya? 🤔

Pulangnya kami diajak Umi Imas buat makan malem ke Nasi Jagal. Wow! Makan lagi?
Padahal sebelum nonton kami udah ditraktir Jeng Har makan bakso. Selamat ulang tahun, Papa.. 🎂 Semoga selalu disayang dan dimasakin yang enak-enak sama Jeng Har.
(Ya ampun, yang ultah kan suaminya.. Tapi kami nggak ada yang maksa lho!! Beneraaan! Cuman nyindir-nyindir gitu setiap 5 menit sekali.) <— bagian ini beneran lho! Jadi pikir sekali lagi kalau mau temenan sama saya. Bisa-bisa nanti saya manfaatin. 😂

Tips berteman dengan Ipey adalah: jangan sampai Ipey tau tanggal lahir sekeluarga. Sembunyikan KK. Kalo enggak, bhay deh.. minta makan-makan meluluk.

Nah, kembali ke Nasi Jagal, tempat kami makan itu hampir tutup. Yaiyalah, tengah malam. Dan ternyata enaaaaak..

Katanya warung-warung tersebut dulunya buat tukang jagal sapi yang memang ada di deket situ. Makanya dinamain Nasi Jagal.
Ada beberapa warung berderet jualannya nasi jagal semua. Dan saya baru tau padahal sering lewat kalo pas mau anter/jemput Pak Popop.

Harganya juga murah. 4 porsi makan + 5 es teh + 1 akuwa gelas total Rp54rb. Eh itu murah kan? Soalnya porsi nasinya banyak sampai kami semua takut.

Kalau yang lain takut nggak habis dan mubadzir, kalau saya justru takut karena pasti habis lalu saya nambah gemuk..
Lauknya terdiri dari potong-potongan daging, tetelan, lemak, dan lain-lain sebagainya, yang seperti surga bagi saya. Kalau di Jogja kayak oseng-oseng mercon tapi ini nggak pedes malah cenderung manis

Nyaem 🍚

Nah, setelah emak-emak me time, besoknya giliran saya anter segerombolan anak-anak buat me time juga.
Dan kisah mereka tentu lebih heboh dan melelahkan untuk dialami emak-emak seumuran saya.

Biasanya kalau bawa nonton rombongan anak-anak, saya datang mepet aja. Beli tiketnya pakai m-tix trus begitu sampai, nggak lama pintu teaternya dibuka.

Tapi karena beberapa minggu belakangan Tangerang banyak perbaikan jalan dan m-tix saya entah kenapa gak bisa dipakai, jadilah saya berangkat lebih awal.

Nixie-Dhika-Alex-Nadila-Nazwa-Qisty-Ando-Percy-Tristan-Ala-Taufan (Altha nggak ada di gambar soalnya nyusul).

Setelah beli tiket, saya ajak anak-anak buat minum teh susu dulu di food court. Setelah itu mereka saya bebasin nyebar, sementara saya duduk ngawasin.

Nggak lama Bu Ning dateng sama Altha, trus kami ngobrol.

Lihat.. Aman dan terkendali, kan?

Oh iya, buat yang belum tahu, saya ini ada di Mall Bale Kota Tangerang, yang sepi. Sangat sepi sekali sampai rasanya foodcourtnya ini milik pribadi. Jadi anak-anak jalan ke manapun (di dalam foodcourt) insyaallah aman karena pasti kelihatan.

Tapi, baru aja sombong dikit bilang pasti kelihatan, kayaknya baru sedetik saya peringatkan anak-anak buat nggak naik troley supermarket, tiba-tiba secepat kilat, Ala udah naik di troley lagi dan didorong sama Dhika, Taufan, Ando, dan Tristan (dia bersumpah cuman megangin doang tapi nggak dorong – entah sumpah pramuka atau sumpah pemuda), lalu…

BRUAAAK!!

Nabrak rolling door tempat latihan taekwondo.

Saya terus terang ketawa pas mereka nabrak. Karena saya dari tadi nyuruh jangan lari-larian pada cuek.
Sukurin kata saya dalam hati. Tau rasa kalian semua!!!

Entah kenapa kali ini susah banget ngatur bocah-bocah itu. Padahal biasanya pergi bareng gak pernah seheboh ini. Apa mungkin saking lamanya gak pernah jalan-jalan barengan lagi, jadi liar semuanya.

Saya diem aja pas anak-anak itu dimarahin. Tar dululah.. biar jadi pelajaran 😂. Ntar kalau udah beberapa menit baru saya samperin. Toh saya kenal sama yang punya, dulu anak keduanya satu sekolah sama Nixie (walaupun ternyata yang punya nggak kenal saya ha ha ha).

BuNing juga kenal.. ya pastilah.. kalo sama BuNing pasti kenal soalnya kan BuNing kepala sekolah anaknya pas TK.

4 anak perempuan yang tadinya nyemangatin langsung pada melipir ke kursi saya sambil laporan kalo 5 tersangka itu disuruh benerin rolling door.

Sementara Percy, Nixie, & Alex duduk aja pura-pura gak kenal. Begini deh realita hidup, saat ketimpa masalah langsung cari selamet sendiri gak peduli adeknya ikut jadi tersangka. Perlu diupgrade nanti program kekeluargaannya.

Belakangan, Nadila, Qisty, Nazwa, dan Altha cerita kalau sebenernya yang anak-anak perempuan mau naik juga. Lagi lepas sepatu eh keburu kejadian nabrak trus gak jadi.

Jadi siapa bilang mendingan anak perempuan daripada anak laki-laki? Cuman karena laki-laki lebih gesit aja jadi lebih cepet kena masalahnya..
Coba kalo yang perempuan nggak pake acara mau lepas sepatu dulu, bisa-bisa mereka ikut balapan troley dan semua kerja rodi mbenerin rolling door. 😂

Yang bikin saya akhirnya nyamperin adalah: nggak lama salah satu bocah bilang ke saya kalau kepalanya dikemplang/ditempeleng.

😲
Waaah… kaget!
Bisa-bisa temen saya marah karena saya nggak bisa jagain anaknya.

Saya sama BuNing langsung ke tempat taekwondo.
Duh, ngeri.. jangan-jangan rusaknya parah, ya, kok sampai ditempeleng. Lagian kok pakai nempeleng sih?

Ya ampuuun… Harusnya tadi saya langsung nyamperin aja, ya? Nggak perlu kasih pelajaran anak-anak dulu.

Saya minta maaf sambil konfirmasi. Nggak enak juga karena saya kenal beliau. Katanya sih nggak nampar kepala, tapi nabok bahu.

Entahlah siapa yang bener karena nggak ada saksi. Saya tanya anak-anak yang lain nggak ada yang lihat kejadiannya.
Saya memastikan lagi kalau beneran nggak ditempeleng, lalu saya hanya bisa berharap beneran nggak ditempeleng, dan nggak ada masalah dengan kesehatan anak dan nggak ada masalah dengan ortu si anak.

Alhamdulillah pas saya wasap, mamanya bersedia ngertiin.😢

Kalau emang rusaknya parah, saya bersedia ngganti rugi, karena anak-anak itu di bawah pengawasan saya. Saya lihat emang rolling doornya melesak keluar.
Tapi setelah saya perhatikan ternyata itu rolling door yang tiangnya lepasan. Jadi pas ketabrak, rolling doornya keluar dari tiangnya. Tinggal lepas tiang trus masukin lagi juga beres.

Tapi si bapak bilang, sebenernya bisa aja mbenerin sendiri, tapi beliau mau anak-anak bertanggung jawab. Okelah.. gak papa. Ada sebab ada akibat. Harus belajar menanggung akibatnya.

Tapi yaa, bocah-bocah ini nggak mikir juga. Namanya masih 8-9th.
Padahal itu ada kuncian tinggal ditarik ke atas trus tiangnya dilepas, baru rolling doornya bisa dimasukin ke tiang lagi. Eh gak taunya pas saya nyoba ternyata keras nggak bisa ditarik. 😂

Anak-anak disuruh nyari petugas kebersihan. Pokoknya harus tanggung jawab mbenerin. Tapi kan anak orang disuruh nyari ya nggak mungkin saya biarin.

Takut nanti malah yang ada ilang di mall dan mungkin saya bakal mengubur diri saya sendiri sebelum emak si bocah nyari-nyari buat nenggelemin saya.

Jadilah saya ikut keliling juga. Untung cepet ketemu.

Dan si mamas petugas kebersihan bilang kalau dia nggak ada wewenang buat benerin rolling door. Yang berwewenang adalah petugas enjinering (engineering?).

Walah, batin saya, ngangkat selot aja kok musti petugas ‘enjinering’ segala. Tapi ya udah, kan saya yang salah, nggak bisa ngotot, jadi saya minta no telponnya mamas ‘enjinering’ walaupun nggak dikasih.

Setelah beberapa kali saya minta Mamas Petugas Kebersihan buat narik selot, barulah dia mbantu. Etapi ternyata juga gak kuat.

Pada akhirnya, Bapak yang punya taekwondo itu ngangkat selot di tiang, lalu baru deh Petugas Kebersihan ikut bantu.

Dan masalah sudah selesai.

Saya suruh anak-anak minta maaf lagi. Lalu sekali lagi saya tanya apakah saya perlu ganti rugi, tapi kata beliau gak usah.

Huuft.. lega..
Akhirnya kami semua jalan ke bioskop buat ngadem.

Saya duduk dengan anak laki-laki yang masih kecil (soalnya 3 sekawan, Dhika-Alex-Nixie, maunya duduk bertiga aja – merasa sudah besar tapi paling semangat nonton NinjaGo) dan BuNing duduk dengan anak-anak perempuan.

Pas merasa lega ketika pantat saya nempel di kursi bioskop, Ando teriak, “Hape aku? Mana hape aku?!”

Eng ing eng..

Alhasil saya nggak jadi ikutan nobar karena saya keliling foodcourt dan menelusuri kursi di ruang tunggu bioskop. Jadi itulah sebab kenapa saya nggak menikmati filmnya. Ya karena emang nggak nonton.😧

Di foodcourt nggak ada hasil. Di panggung. Di kasir. Di depan tempat taekwondo. Di dalam tempat taekwondo. Di tempat sampah (Ando sempet bantu saya buang sampah plastik teh susu). Nihil.

Di bioskop juga gak ada. Di bawah kursi (sampai semua pada berdiri). Di toilet laki-laki (ehem.. maap bukan maksud mau ngintip). Di tempat popcorn. Gak ada juga.

Sambil menghela nafas panjang, saya duduk di kursi di depan kasir lalu wasap ke bundanya kalau sepertinya sudah tak ada harapan lagi. Saya ninggalin no hape ke petugas keamanan, tapi saya sih sepertinya nggak yakin bakal dihubungi. 😧

Saya nggak masuk ke dalam theater lagi karena nanggung bentar lagi film selesai. Saya wasap aja ibu-ibu yang anaknya ikut saya, sambil cerita kejadian troley dan rolling door.

Kebetulan, karena anak kami dulunya satu tk dengan anak si bapak yang punya tempat belajar taekwondo, rata-rata semua saling kenal dan malah tetanggaan. Dan mereka jadi nggak enak ati walaupun masalah sudah selesai. Jadinya sesudah Isya janjian ke rumah si bapak.

Selesai lihat film kami langsung pulang karena takut macet. Sempet mampir ke rumah Ando buat ngomongin hape ilang, lalu anter bocah-bocah pulang, lalu saya dan BuNing langsung ketemuan sama Umi Imas dan Lilis. Berempat doang yang bisa pergi ke rumah si Bapak, karena yang lain sedang ada keperluan.

Saking capeknya, saya sampai habis seblak semangkok dan burger sebungkus.. Dan sempet makan sale pisang bikinan Lilis yang masih dijemur ngampar tanpa tutup (yaiyalaaah). Entah itu sale pisang udah dilaletin apa dikecoakin, rasanya tetep enak.

Hikmahnya adalah: Jika angon bebek di bioskop, jangan datang terlalu awal.

Dan akhirnya…
The end.

Eh, ada sedikit lanjutannya lagi:

Pas malemnya kan saya musti jemput Popop yang mendarat jam 11 malem. Saya tiba-tiba ngeri gara-gara diteriakin Lilis, “Itu kok ada balon merah di belakang?!”

😣
Inget, saya penakut.

Jadi saking pengecutnya, alih-alih lewat KM (jalan pintas yang sepi kayak kuburan kalo udah malem), saya lewat Panarub (jalan raya utama).

Dan bodohnya, pas lewat jalan berlubang, ADA SUARA GEDEBUG DI JOK BELAKANG… 😱

Jantung saya rasanya mau copot. Pennywise kan tinggalnya di gorong-gorong. Kapan masuknya ke mobil saya?!

Saya lalu ngelirik ke spion tengah, gak ada apa-apa.
Gak ada setan 👻.
Gak ada alien 👽.
Pintu juga aman ketutup semua.

Pas lewat jalan menanjak, saya agak telat ngerem jadi agak kesentak mobilnya. Dan lagi-lagi ada suara gedebug.

💢Apa sih ini, bikin kaget aja?!

Saya lalu brenti trus buka pintu belakang buat ngecek. Ya Allah.. tuh bocah-bocah tadi keluar mobil kan kursi tengahnya dilipet, trus karpetnya sampai ketarik turun sampai nutupin pengunci kursinya. Jadi pas kursinya dijatuhin ke tempat semula…ya nggak ngunci.

HUH! 😠
Jitak atu-atu juga nih kalo besok ketemu!

Tapi alhamdulillah sesudah itu aman damai tenang sentausa, walaupun sempet nyesel kenapa nggak lewat KM yang kayak kuburan aja, karena saya kena macet. Macet kok jam 10 MALEM, cobak?! 😅

Udah dululah. Udah jam setengah tiga. Saya ngantuk. Mau bobok dulu nyimpen energi buat berenang.

👋 Dadaah…!

Pawai Obor Tahun Baru 1439H

Pawai Obor Tahun Baru 1439H

Semalem saya ajak anak-anak buat ikutan pawai obor. Duuuuh.. biar aja saya dibilang katro, karena saya super bahagia banget 😂.

Ini pawai ngangenin banget lho! Dulu pas masih kecil, setiap malam takbiran pasti saya ikut pawai obor. Pas tahun baru Islam juga ikut pawai obor.
Bahkan, standar kebahagiaan saya sewaktu kecil (selain makan) adalah ikut pawai obor.

Karena di komplek saya nggak ada pawai, saya cari-cari ke komplek-komplek sebelah. Ada yang mengadakan pawai tapi pakai seragam TPA mereka, ada yang hanya pengajian aja acaranya, ada yang pawai tapi masih nanti hari Sabtu, dan lain sebagainya.

Akhirnya beruntung banget ada komplek yang ngadain pawai obor ini pas tahun baru, trus nggak pakai pakaian seragam TPA, dan yang paling penting: orang luar (katanya) boleh ikutan.

Pawai obor ini diadain oleh Majlis Ta’lim Mushallah Ar Raudhah, Villa Grand Tomang, Tangerang.

Pertanyaan sebenernya adalah: Emang kamu pede, Pey, ajak anak-anakmu ‘menyusup’ di komplek orang. Nanti kalau ibuk-ibuknya bertanya-tanya gimana?

Jreng jreng..

Karena keinginan saya demikian kuwatnya, saya siap menghadapi emak-emak yang mungkin nantinya merasa nggak suka karena kami bukan warga komplek itu. 😂

Semangkaaa!! 💪

Pukul 18.30 kami berangkat dari rumah, lalu saya turunin anak-anak saya + temennya yang juga ikut menyusup, trus saya nitip kendaraan di sebelah rumah kenalan saya yang letak rumahnya di pojok komplek, agak jauh dari mushallah. Niatnya biar nggak ngalangin jalan. Kalau parkir di deket mushallah kan takut menuh-menuhin jalan.

Ketika nyampe di mushallah, acara udah di mulai. Acaranya sekalian bagi-bagi rejeki ke anak-anak yatim.

Dan ternyata, ada berita menyenangkan, yaitu banyak temen-temen sekolah anak saya yang juga ikut pawai di situ.

Hhah.. legalah kalau begini. Jadi anak-anak saya bukan totally stangers, kan, jadinya. 😁

Dengerin pidato Prof. dr. Desri Arwen dulu. Ini yang duduk di depan saya ini anak-anak yatim.

Selesai pembagian amplop ke anak yatim, mereka makan dulu. Ketika anak-anak yatim makan, ibu-ibunya ngompakin nabuh rebana bershalawat buat ngiringin pawai obornya.

Dan untungnya mereka ramah-ramah, ke saya juga ajak ngobrol kayak udah kenal aja. Disuruh ikut gabung shalawatan..
Saya rasa sih mereka pasti mikir saya juga penduduk di komplek itu tapi jarang keluar. Makanya wajahnya asing, tapi tetap diajak ngobrol ha ha ha..😂

Memang mereka semua baik-baik sih. Ketika tau saya bukan penduduk situ, mereka bilang lebih banyak orang ikut pawai, lebih baik.. Yeay..!

Ibu-ibu Ar Raudhah mempersiapkan diri buat pawai.

Hayo coba cari.. Yang mana si penyusup itu?

Karena ini pengalaman pertama anak-anak saya, mereka sebenernya harap-harap cemas dapet obor apa enggak. Seharian kemarin saya ke tukang bambu 3x. Bambunya ada tapi tukangnya nggak ada. Hadeeh..

Akhirnya saya tatar dulu : kita cuman ikut-ikutan ya, kalau nggak dapet obor nggak boleh kepengen trus rewel. (Termasuk ditatar dulu kalau nggak boleh makan nasi karena itu buat anak yatim).

Tapi alangkah senangnya…ternyata anak saya kebagian obor.. yeaaay!!!

Tristan nggak bisa berhenti tertawa..

Alex – Nixie – Raihan

Dari Villa Grand Tomang, kami keliling ke Villa Mutiara Pluit terus sampai mushollah lagi.

Obor Tristan mati ketika pawai belum selesai. Dari belakang saya lihat, Percy nyamperin dan kasihin obor dia ke adeknya yang selalu berantem melulu sama dia. Ha ha ha.. memang sibling itu antara benci tapi sayang ya..😄

Sesampainya di mushallah, kami disambut es kelapa muda yang seger banget. Dan alhamdulillah Tristan nggak habis, karena saya terlalu tahu diri buat nggak nambah.
Yaiyalah, Pey!

Sesudah istirahat bentar, ada pemutaran film Umar Bin Khatab dan.. Eh saya dapet nasi nih. Ada sisa. Kebetulan banget Tristan habis nyamperin saya bilang laper walaupun tadi udah makan malem.
Nyaem.. trus langsung habis dalam sekejab.

Ini menjelang nonton film bersama. Pas nobar, lampunya digelapin biar kayak di bioskop.

Kami juga dapet snack.
Pas dikasih snack, saya celingak celinguk nggak enak. Kami ini kan harusnya nggak masuk ke dalam daftar peserta. Takut kurang.

Dan sebenernya ada dua lagi yang bikin nggak enak hati..

Pertama,

Inget kan saya bilang saya parkirnya di pojok komplek? Saya salahnya parkir di belakang gerbang begitu saja. Gerbang itu emang jarang banget dibuka jadi saya asal parkir yang penting mepet.

Taunya, rombongan pawai lewat situ pas pulangnya. Saya untungnya berada di barisan belakang, jadi nggak lihat pas pawainya kehalang kendaraan saya.

Kedua,

Sesudah pemutaran film diadakan kuis buat anak-anak dan orang tua. Kuis itu berdasarkan film yang ditayangkan. Yang bisa langsung maju, sebut nama, dan jawab pertanyaannya.
Bahkan kalau jawabannya kurang tepat pun juga masih dimaklumi dan dapet hadiah karena menghargai keberaniannya untuk maju dan berusaha jawab. Top deh panitianya.

Percy sedang menjawab kuis 💬

Nah, apa yang bikin nggak enak?

Setelah beberapa lama diam lama-lama pengen juga dapet hadiah. Satu persatu anak saya maju ke depan termasuk Alex, temennya Nixie yang ikut kami.

😂

Nggak enaknya kenapa?
Setelah sampai rumah, hadiahnya dibuka.
Taraaaa…

Isinya wow sekali mengingat bahwa kami ini penyusup.

Hadiah kuis yang Wow! sekali..

Salut banget sama yang bikin acara. Anak-anak terkesan.

Dan tahun depan sepertinya mau ikut lagi ah. Dan kali itu emaknya harus bisa jawab pertanyaan supaya dapet hadiah juga.

Boleh kan?
😄

In case video pawai obor di atas nggak bisa dilihat, klik aja tulisan ini.

Hobi Janjian Ketemuan

Saya paling hobi ketemuan dengan temen2, terutama yang jauh-jauh tinggalnya. Seneng gitu karena banyak cerita yang seru buat diobrolin.

Bisa ditebak, saya sering banget janjian ketemuan sama temen-temen di Bandara. Tempat paling memungkinkan untuk mencegat temen-temen saya yang tinggal di luar kota dan luar negri. Udah nggak terhitung berapa banyak yang ketemuan sama saya di bandara.

Kayak tadi siang, alhamdulillah banget bisa ketemuan sama Herwina Dian Aprilia (temen sma) yang saya panggil Bebek.

Ya ampuuun sumpah, dari rumah, saya sudah mengevaluasi diri, dan memutuskan tidak boleh memanggil Dian dengan sebutan Bebek lagi. Say NO to bullying.
Tapi.. ketika ngobrol seru, saya Bak Bek Bak Bek aja.. Lali, Bu!

Walaupun cuman bentar, asyik banget. Sejam yang berkualitas bagi saya. Bisa denger pengalaman2 hidupnya yang penuh warna.

Acara pertemuan di bandara biasanya berlangsung agak heboh karena aslinya nggak pernah ketemuan atau kadang ada berita yang memang heboh.

Misalnya:

Saya pernah lho, baru tau kalau teman saya Unan Hanif Hanis ternyata anaknya 3 ya pas janjian di bandara. Ternyata dia baru aja lahiran nggak kabar2. Bahkan hamilnya aja kita gak ada yang tau.

Gilak kan?

Dia sekolah di luar negri dengan mbawa anak2 piyiknya, trus hamil nggak pake ngeluh nggak woro2, ngelahirin, momong anak2, tetap sekolah..

Uugh.. sementara saya makan tidur makan tidur tapi ngeluh mau me time meluluk..

😜

Acara ketemuan sama Untung Basuki dan Runi Kumalasari yang di bawah ini juga ketemuannya cuman sebentar. Itu bukan di bandara sih, tapi di Al Safwa Market. Tapi rumah saya dan mereka sama2 dekat bandara walaupun beda arah anginnya.

Dulu, mereka itu malah nggak terlalu saya kenal deket pas jaman sekolah (iya itu dua2nya juga temen sma saya) tapi justru ketika saya dan mereka punya anak2 kecil, kami jadi sering komunikasi dan saling mengunjungi.

Pertama emang karena lokasi rumah kami terbilang dekat (nggak nyampe sejam udah nyampe – kecuali ketika lupa belokannya trus sama gmaps diarahin lewat kuburan).

Kedua karena mereka itu tipe teman yang bisa diajak heboh ngobrol walaupun (sayangnya) sekarang ini mungkin ketemuannya cuman setahun sekali karena anak2 kami udah sibuk sekolah.

Maka dari itu, karena udah jarang ketemu, jadi berkesan banget bisa ketemu mereka di sana walaupun sebentaran doang.

Tapi memang paling asyik ketemuan sama temen2 yang gampang ngobrol begini. Nggak perlu sama minat ataupun sama profesi, tapi obrolannya nyambung dan menyenangkan. Apalagi kalau ketemuannya di bandara soalnya deket ama rumah saya ha ha ha..

Duh besok mau ketemuan sama siapa lagi, ya?

Yang mau mendarat di Soekarno Hatta, boleh calling2 saya 😜.

Perbedaan Pandangan Antara Saya dengan Suami

Suami saya itu termasuk orang yang bertipe praktis. Mau beli A ya datang ke toko A trus pulang. Nggak pernah mampir-mampir ataupun belanja barang yang nggak ada di rencana.

Kalau udah niat A ya pasti ngelakuin A doang. Kayak pake kacamata kuda. Tatapannya mengarah ke 1 tujuan di depan aja.

Sama sih, saya juga gitu. Kalau udah ada tujuan B ya hanya tujuan B, tapi ya masih fleksibel-laah..

Biasanya kami nggak masalah. Saling kompromi aja. Cuman pas di Mekah ini, perbedaan saya ama suami itu seperti langit dan bumi kalau masalah tempat sholat di Masjidil Haram.

Suami saya kalau ke Masjid ya buat ibadah. Mau duduk di teras, di pelataran, di manalah yang penting masih di masjid. Nggak mikir itu katanya ada tempat yang kalo berdoa pasti mustajab. Nggak pernah mikir harus di mana karena apa. Nggak milih-milih tempat. Mana yg kosong pertama ketemu ya dia duduk di situ. Pokoknya niat dia cuman sholat ama ngaji di masjid. Titik. 

Bisa ditebak, hp suami saya paling cuman ada 4 foto sepanjang perjalanan ini.

Yaa beneeeer siiih… Tapi kan nyesuaiin sikon lah!

Saya juga gak banyak foto-foto, tapi ya gak gitu-gitu amatlah. Jauh-jauh ke Mekah kok nggak nyari view yang bagus.

Kalau Dhuhur Ashar yang hot saya emang request ke suami buat milih saf di dalem yang dingin ber-ac. Maghrib Isya biasanya asal aja ngikutin kemana suami saya melangkah buat milih tempat di masjid.

Nah.. kalau Tahajud Subuh Dhuha… ini yang suka bikin agak senewen. Saya maunya deket Kakbah. Maksudnya sekalian liat perubahan warna langit dan pemandangan indah gitu lho!

Tapi suami saya males jalan, buang-buang waktu katanya. Nggak penting pemandangannya yang penting ibadahnya. Apalagi posisi yang saya suka ada di seberang pintu masuk kami.

Dan tadi pagi, nggak lama sesudah sepakat tempat buat sholatnya di mana, saya wasap suami kalau saya pindah tempat. Tapi sebelum Dhuha saya balik lagi ke tempat suami saya sekedar untuk memotret pemandangan dari tempat duduk suami saya, buat distatusin ha ha ha… dan…

Taraaa…

Inilah perbedaan pemandangan kami dari jam 3 sampai jam 6 tadi pagi.. 😂😂😂